English
English
Vietnam
Thailand

FIFA berencana memperkenalkan aturan baru untuk mengatasi kebiasaan pemain yang menutupi mulut saat berbicara dengan lawan di lapangan. Langkah ini muncul setelah kasus dugaan pelecehan rasial yang melibatkan Vinícius Júnior dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dalam pertandingan play-off Liga Champions. Insiden tersebut memicu perhatian besar karena komunikasi antara kedua pemain sulit dipastikan akibat tindakan menutup mulut, sehingga menyulitkan proses investigasi.
Prestianni saat ini tengah dalam penyelidikan otoritas sepak bola Eropa terkait dugaan ujaran rasial terhadap pemain Real Madrid tersebut. Pemain muda asal Argentina itu membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya, namun sempat menerima hukuman larangan bermain sementara satu pertandingan. Proses penyelidikan menjadi lebih rumit karena tidak ada bukti visual yang jelas mengenai percakapan di lapangan, terutama ketika pemain menutupi mulut dengan tangan atau bagian seragam mereka.
Pembahasan mengenai aturan baru dilakukan dalam pertemuan tahunan IFAB, badan yang bertanggung jawab atas regulasi sepak bola dunia. FIFA ingin mencari cara agar percakapan yang berpotensi melanggar aturan dapat lebih mudah dipantau tanpa menimbulkan masalah baru dalam penerapan aturan pertandingan. Rencana tersebut ditargetkan bisa mulai diterapkan sebelum Piala Dunia 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan mencegah tindakan yang melanggar nilai sportivitas.
Meski demikian, FIFA tetap mempertimbangkan keseimbangan antara pengawasan dan kebutuhan pemain untuk berkomunikasi secara wajar di lapangan. Diskusi lanjutan akan dilakukan dengan berbagai pihak agar kebijakan yang diterapkan tidak mengganggu komunikasi normal antara pemain, pelatih, maupun ofisial tim. Jika disetujui, aturan ini dapat menjadi salah satu perubahan penting dalam upaya menjaga integritas sepak bola di masa mendatang.